Langsung ke konten utama

DIAM


Diam

 

Dalam diam, aku menyapa bersama hangatnya suka cita

Dengan diam, bukan berarti aku tak punya kepekaan rasa

Aku juga ingin berbaur dengan dunia

Tapi sungguh, aku tak mampu mengungkapkannya

Atau hanya sekedar angkat bicara

 

Kebungkaman ku terkadang membuatku tersiksa

Karena diamku, aku merasa tak punya siapa-siapa

Berbagi cerita, entah kepada siapa??

 

Ingin rasanya aku teriak sekeras yang aku bisa

Menunjukan jati diri ini yang sebenarnya

Bukan manusia dingin seperti yang selama ini kamu kira

 

Aku juga  ingin seperti mereka

Yang bisa berbagi ceria, menghapus luka dan tertawa bersama

Tapi nyatanya ??

Aku masih membeku dalam jeratan hampa

Membisu dalam diam yang membuatku tak berdaya

 

By. Lili Fitriani Hafid

 



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secangkir Kopi Tubruk untuk Ayah

SECANGKIR KOPI TUBRUK UNTUK AYAH   Aku masih menatap awan yang mulai meredup sendu, perlahan demi perlahan berubah warna menjadi kelabu.   Alam seakan mengisyaratkan isi hatiku.   Hatiku yang dipenuhi oleh luka yang bergemuru. Saat air mata menetes membasai pipiku, seketika itu pula hujan mendarat menyamarkan dan melebur dengan tangisanku. Aku tidak peduli meski kini hujan telah menguyur sekujur   tubuhku dan membiarkan dingin melemahkan pertahananku. Langkahku semakin lunglai menelusuri setepak jalan yang aku sendiri nggak tahu kemana aku akan pergi. Sepinya jalanan dari   kendaraan   maupun orang yang lalu lalang membuatku bertanya-tanya. Akankah ada yang menolongku dari kehampaan ini ?? akankah ada yang melepaskanku dari luka dan rasa takut yang menjeratku selama ini ?? aku ingin melepaskan diri, berlari sejauh mana kaki ini membawaku pergi. Aku ingin pergi, menjauh dari pelampiasan semua kekesalan ayah. Aku ingin pergi agar terbebas dari ...

Pergilah...

Waktu bergulir tanpa henti Dan aku masih di sini Bersama bayangmu yang selalu menghampiri Sendiri Bagaimana aku bisa pergi  Mencari hati yang kau curi  Waktu bergulir tanpa henti Aku tak ingin seperti ini Menanti dirimu kan kembali Menanti dirimu yang tidak pasti Waktu bergulir tanpa henti Pantaskah aku menyebut namamu lagi Yang tak pernah bisa memahami Aku yang terluka ini Ku mohon cukup sampai di sini Bawa pergi buayan palsu yang pernah kau beri Karena aku tak ingin tersakiti lagi.