Langsung ke konten utama

Secangkir Kopi Tubruk untuk Ayah



SECANGKIR KOPI TUBRUK UNTUK AYAH
 Aku masih menatap awan yang mulai meredup sendu, perlahan demi perlahan berubah warna menjadi kelabu.  Alam seakan mengisyaratkan isi hatiku.  Hatiku yang dipenuhi oleh luka yang bergemuru.
Saat air mata menetes membasai pipiku, seketika itu pula hujan mendarat menyamarkan dan melebur dengan tangisanku. Aku tidak peduli meski kini hujan telah menguyur sekujur  tubuhku dan membiarkan dingin melemahkan pertahananku.

Langkahku semakin lunglai menelusuri setepak jalan yang aku sendiri nggak tahu kemana aku akan pergi. Sepinya jalanan dari  kendaraan  maupun orang yang lalu lalang membuatku bertanya-tanya. Akankah ada yang menolongku dari kehampaan ini ?? akankah ada yang melepaskanku dari luka dan rasa takut yang menjeratku selama ini ?? aku ingin melepaskan diri, berlari sejauh mana kaki ini membawaku pergi.

Aku ingin pergi, menjauh dari pelampiasan semua kekesalan ayah. Aku ingin pergi agar terbebas dari siksaan Ayah, aku ingin pergi hingga Ayah tidak bisa lagi memukuliku semaunya, meski aku nggak tahu apa kesalahannku ? apa yang membuat Ayah selama ini kasar padaku.

Tapi kemana aku harus pergi ?? toh sejauh mana pun aku mencoba kabur, anak buah ayah pasti bisa melacak keberadaanku. Meskipun saat ini aku berhasil melarikan diri dari rumah gedong tapi tak ubahnya seperti neraka begiku, pasti pengawal ayah tidak akan tinggal diam dan membiarkanku untuk melarikan diri. Apapun akan mereka lakukan untuk menemukanku dan kembali mengurungku dalam kamar yang di design semenarik mungkin tapi sebenarnya kamar itu hanya jelmaan penjara terkutuk yang menjadi saksi bisu penderitaanku. Hidupku tak ubahnya seperi seekor burung yang di kurung dalam jeratan yang penuh dengan siksaan.

Tap ... tup ... tap.... tup...tap...tup. Langkah kaki seseorang tiba-tiba terdengar  di belakangku dan tentu saja itu menandakan jika seseorang sedang mengikutiku yang membutku meringis kesal. Tidak bisa kah sehari saja aku terlepas dari pengawasan pengawal-pengawal bayaran ini ?? dasar menyebalkan. Aku benar-benar benci semua ini, aku benci kenapa hidupku bisa sepekik ini.

 Sudah cukup !!Aku sudah muak dan lelah dengan semua ini.  Baiklah hari ini juga aku akan mengakhiri semuanya, aku akan mengakhiri semuanya.

Tanpa berfikir lagi, aku kemudian membalik tubuhku. Memberanikan diri  menghadapi  orang yang saat ini berdiri di hadapanku.
“ untuk apa masih mengikutiku ??  apakah kamu nggak bosan melihatku terus dan terus di siksa,  aku mohon lepaskan aku. Sudah berapa tahun aku di kurung?? apakah  kamu belum puas ? kalau memeng demikian kenapa kamu tidak membunuku saja,  kenapa masih mebiarkanku hidup ??”  uajrku memakinya dalam isakan tangisanku, berharap belas kasih darinya.

“ aduh... mbak ini ngomong apa sih??  Aku bahkan tidak mengenal mbak. “
“ lantas kenapa kamu mengikutiku?? “  tanyaku geram
“ mbak, ini hujannya deras banget dan sebeiknya mbak menepih deh. Batalkan niat mbak mengakhiri hidup mbak, apalagi dengan cara yang treagis seperti ini.  Astafirullah mbak.. istigfar mbak...  pulanglah mbak... kasian orang tua mbak, mereka pasti menghawatirkan mbak!! Setiap masalah itu pasti ada solusinya kok mbak 

Siapa sih laki-laki yang berdiri di hadapanku ini ?? dia mengatakan kalau dia tidak menggenalku? tapi kenapa dia sibuk mencampuri urusanku ??  ngehh .. dan apa katanya ?? orang tuaku ??     peduli denganku ?? orang ini benar-benar sok tahu. Apa mungkin dia berpura-pura tidak mengenalku karena dia salah satu orang suruannya Ayah ??

“ mbak... ayo gih menepi mbak !! kasian orang-orang yang  menghentikan kendaraannya karena ada mbak di tengah jalanan “
Nih orang ngomomg apa sih ?? kenderaan apa maksudnya ?? bukannya jalanannya sepi banget.

“ woiii...  kalau mau pacaran jangan di tengah jalan dong !!!” teriak seseorang yang seketika membutku menoleh ke arah pemilik sura tersebut.
Lah, sejak kapan kendaraan jadi sepadat ini ?? batinku bingung yang seketika di buyarkan oleh gemuru suara klakson.

“ semenjak mbak berdiri di sini !! “  
Apa orang ini bisa baca pikiranku yah ?? tapi ah, bodo amat. Pokoknya  Aku nggak boleh percaya sama orang ini.  Orang ini pasti salah satu orang suruannya Ayah. Aku harus pergi dari sini, yah aku harus pergi.
Selang setelah beberapa langkah aku menjauh dari orang asing itu, sekali dua kali bahkan berkali-kali aku menoleh ke arah peria tadi. Terlihat matanya yang meneduhkan itu masih mengikuti langkah kakiku yang perlahan mulai menjauh. Siapa sebenarnya peria itu ?? dia tak tampak seperti orang jahat, sekalipun aku tidak mengenalnya tapi rasanya hatiku bisa tenang saat berada di dekatmya tadi. Tapi ah, aku nggak boleh luluh dengan dengan tampangnya yang sok polos itu. Aku nggak boleh percaya sama orang itu.

Aku kemudian  menyebrang dengan berlari secepat mungkin tanpa melirik kiri kanan, jangan sampai orang itu mengikutiku lagi, tapi sialnya sebuah mobil tiba-tiba melaju dengan kecepatan maksilmat yang membuatku tak mampu mengelak, aku tak bisa lagi bergeming.

Kurasakan tubuhku melayang akibat dentuman keras, pikiranku seketika melayang. Antara sadar dan tidak. Gemah suara teriakan orang-orang masih terdengar samar di telingaku.  Aku hanya bisa pasrah dengan tubuhku yang tergeletak di jalanan. Mungkin ini  adalah akhir dari kisahku.

Tapi entah mengapa dalam keadaan seperti ini, mengapa bayangan Ayah yang muncul.  Dan entah mengapa di luar kendaliku aku terus memanggil Ayah.
Ayah...
Boleh aku memanggilmu?
mengenangmu dalam sukaku bukan dalam dukaku
Ayah......
Bisakah enhkau mencintaiku meski untuk hari ini saja ?
Hanya kamu yang kupunya, temani aku mengusir luka
Ayah.....
Enggan kah engkau menemaniku ketika senja?
Dan memelukku saat aku menutup mata

Rasa dingin yang begitu dahsyat sepertinya kini menyelimuti tubuhku, perlahan aku mulai membuka mata.  

aku ada di mana ?? ruanagan ini terlihat asing bagiku ??  dan siapa yang telah menbawaku ke tempat ini ??  saat igatanku masih mencoba memutar kejadian yang meninpahku hingga aku bisa sampai di tempat ini, tiba-tiba seseorang menghampiriku. Dan ternyata adalah orang yang sama yang tadi menghampiriku di jalanan.

Awalnya aku pikir kalau dia adalah orang suruhannya Ayah, tapi setelah ia mejelaskan segelanga dan memperkenalkan dirinya akhirnya aku pun percaya. Sepertinya dia memang orang yang baik, buktinya dia mau menolongku dan membawaku ke rumah sakit ini.

“ kalau boleh tahu nama embak siapa ?? “
“ kenapa harus manggil mbak sih ?? bukannya kamu lebih tua dari aku ??  namaku Lia dan sebeiknya panggil Lia saja “ bukannya menanggapi ucapanku, ia malah menyegir so manis, tapi memang manis sih, apalagi dengan wajahnya yang cukup rupawan.

“ ok.. ok, oh ya Lia. Kata dokter kamu sudah bisa pulang. Sebaiknya segera hubungi kelurgamu, mereka pasti sudah khawatir “
“ aku nggak mau !! dan aku mohon jangan paksa aku !! “

 *   *   *
Di sinilah aku sekarang, bergelut dengan kesibukan baruku.  kesibukan yang membuatku kembali hidup.

Tanpa terasa suda seminggu aku bekerja di caffe milik keluarganya Adit, dan itu berarti sudah seminggu juga aku terbebas dari amukan Ayah maupun jeratan dan penjagaan ketat dari para penjaga yang menyebalkan itu. Aku sangat berterimakasih pada Adit, karna dia telah menolongku dan mengizinkan aku tinggal sekaligus bekerja di rumahnya. Meskipun awalnya ia bersihkeras menolakku untuk tinggal di rumahnya, namun setelah aku menjeaskan segalanya. Menceritakan kisah hidupku akhirnya dia mau menolongku.

Saat ini aku sedang mencatat pesanan pengunjung caffe, tak lama kemudian setelah itu tiba-tiba pandanganku terpusat pada sosok peria parubaya yang sepertinya semuran dengan Ayah. Entah mengapa seperti ada getaran saat aku menatap wajahnya. Peria itu seakan tak asing bagiku? Tapi bagaimana bisa? Sedangkan aku baru melihatnya kali ini ?

Aku masih memperhatikannya, ia mulai duduk di kursi pojok yang tak jauh dari meja kasir. Dengan langkah pasti aku kini menghampirinya ??

Aku bahkan belum menanyakan apa-apa, tapi orang ini sudah mengalunkan senyuman seraya berkata : “ seperti biasanya yah nak “   ujarnya dengan dengan senyum manis yang mengalun indah bag pelangi terbalik menghiasi wajahnya.  Dan apa ? dia memanggilku nak? Ayah bahkan tidak pernah memanggilku demikian. Tapi orang ini ? melihatnya seakan membuatku meresakan kehangatan sosok seorang Ayah yang telah lama aku rindukan.
*   *   *
Oh ternyata, bapak-bapak itu langganan di caffe ini toh. Aku baru tahu setelah bibi Nia ibunya Adit menjelaskan semuanya padaku sekaligus  memberitahuku pesanan wajib alias pesanan rutinnya setiap kali ia  datang di caffe ini yaitu secangkir kopi tubruk.

Dengan wajah yang semringah aku kemudian mengantarkan secangkir copi tubruk sesuai dengan pesanan, tapi kali ini spesial karena  kopi ini adalah buatanku sendiri sekaligus kopi pertama yang aku buat dengan penuh ketulusan. Seandainya saja aku juga bisa membuatkan secangkir kopi seperti ini untuk Ayah, akankah ia luluh dan bisa menyayangiku sebagaimana seorang ayah menyayangi putrinya.

“ silahkan di nikmati “ suguhku, sembari masih mematung mengamatinya.
“ kenapa menatapku seperti itu nak ?? apa ada masalah ?? “
“ oh.. nggak kok, aku Cuma mau tau gi mana  tanggapan bapak mencoba kopi ini “
“ hahahaha kamu ini lucu juga yah ??  kalau soal rasa jangan ditanya lagi,  yah tentunya top deh, kalau enggak, mana mungkin saya ke tempat ini lagi dan lagi “
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan dari bapak ini,  dia sepertinya berbeda dengan Ayah. Dia begitu bersahaja, hangat dan begitu kebapaan. Entah mengapa aku ingin banyak berbincang dengannya.

Beberapa menit kemudian akhirnya peria parubaya ini  menyeruput kopi buatanku, aku begitu penasaran bagaimana tanggapannya setelah meminumnya. Jangan sampai di berhenti berlanggana  di caffe ini setelah meminum kopi buatanku.

“ gi mana rasanya pak ?? “
“ wow.. ini bahkan lebih nikmat dari kopi yang ku minum sebelumnya “
“ benarkah.. ?? apakah ayah juga suka yah, kalau suatu saat aku membuatkan kopi untuknya ?? “ desusku ringan yang ternyata di dengan oleh bapak ini.
“ jadi kopi ini buatanmu nak?? “
“ iya pak... ini adalah kopi pertama buatanku “
“ jadi, bisa dibilang dong kalau saya adalah orang yang beruntuk karena telah mencoba kopi pertama buatanmu”

Oh bahagianya, apakah ayah juga sama seperti bapak ini yang menyukai rasa kopi buatanku ?? aku ingin sekali membaut ayah bahagia, agar ayah berhenti kasar kepadaku. Tapi sudalah, nggak ada gunanya juga aku terlalu berharap sama Ayah. Sepertinya aku harus belajar menikmati hidupku meski tanpa kasih sayang darinya.

Saat ini, aku masih berbincang-bincang dengan bapak ini. Semakin banyak bicara dengannya semakin membuatku kagum dengan kesahajaannya. Ia benar-benar seorang Ayah yang sempurna, tapi sayang ia harus kehilangan putrinya tak lama setelah putrinya itu di lahirkan dan sampai saat ini belum di temukan.  Katanya kalau putrinya masih hidup dia pasti seumuran denganku. Semoga saja ia segera di pertemukan dengan putrinya.

Ku lihat cairan bening yang mulai memenuhi kelopak matanya, oh tidak. Sepertinya aku telah membuatnya sedih. Tapi seketika aku di cengangkan ketika ia menarik dan membalik telapak tanganku.
“ sejak kapan tanda ini ada di telapak tanganmu ?? “ tanyanya yang tiba-tiba penuh dengan tekanan .
“ Lia nggak tau pak, tapi sepertinya tanda ini sudah ada sejak lia lahir “ tatapannya semakin menyorot mataku, dan cairan bening itu sudah menetes di pipinya. Hilir mudik pertanyaan menyeruak dalam pikiranku ?? apa yang sebenarnya terjadi pada bapak ini, mengapa ia tiba-tiba menanyakan tanda lahir yang ada di telapak tanganku ini.

Dia kemudian melepaskan tanganku, dan sepertinya sedang mengambil sesuatu di saku jasnya.
“ apa kamu mengenal orang ini ?? “ tanya sembari menunjukan sebuah foto yang membuatku terbelalak kaget.
“ kenapa bisa foto  Ayah ada sama bapak ?? “
“ AYAH ?? “
“iya pak itu Ayah saya ?? emang bapak kenal ayah saya dari mana ?? “
Tanpa menjawab pertanyaanku, bapak itu terlihat menutup wajahnya, ia sepertinya menangis.

“ dia bukan Ayahmu nak, melaikan dia adalah orang yang telah memisahkanmu dari orang tua kandungmu, orang tua yang selama ini mencarimu”
Mendengar pernyataan darinya, seketika air mataku meluncur bebas ?? apa maksud orang ini ? apa orang yang selama ini bersamaku, selama 18 tahun bukan Ayahku? Dan apa karena alasan itu juga ayah selalu menyiksakku ?? apa karena aku bukan anak kandungnya ?? tapi kenapa dia melakukan semua ini ?? mengapa dia tega memisahkan aku dengan orang tuaku.

“ dia adalah orang yang telah memisahkan aku dengan putri kandungku sendiri “
“ apa maksud bapak .... ? “
“ iyah nak, kamu adalah putri Ayah.... selama ini ayah dan bunda telah mencarimu kemana-mana, mencari keberadaan orang yang telah membawamu lari dari Ayah dan Bunda.

*     *     *
Tak pernah terlintas dibenakku sebelumnya. Karena secangkir kopi tubruk hidupku menjadi berubah drastis, karena secangkir kopi tubruk aku kini dipertemukan dengan orang tua kandungku. Sekarang aku akhirnya bisa hidup bahagia dengan limpahan kasih sayang, tanpa pengawasan ataupu pengawalan yang membuatku jerah.

Dan sekarang , aku akhirnya bisa hidup normal, bisa keluar masuk rumah semauku, bermain dengan teman sebeyaku dan tidak terkurung lagi dalam penjara terkutuk. Kini aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya duduk di bangku sekolah bukan home schooling yang membuatku bosan. Hidupku ibarat sebuah kepompong yang kini berubah menjadi kupupu yang bisa terbang ke mana-mana dengan sayap yang indah.

Oh yah, hari ini. Aku akan menjenguk ayah atau orang yang telah memisahkan aku dengan kedua orang tuaku di sel tahanan bersama Adit yang kini telah menjadi sahabat baikku. Aku ingin mengunjunginya bukan karena aku membecinya, tapi aku hanya ingin memastikan keadaannya, semoga dia baik-baik saja. Meskipun ia telah tega memisahkan aku dengan kedua orang tuaku tapi setidaknya dia adalah orang yang membesarkan aku.

  kenapa kamu masih mau menemuiku ?? atau karena kamu ingin menyaksikan kehancuranku ?
“ nggak ayah.. engak, Lia kesini karena  Lia ingin memastikan kalau Ayah baik-baik saja “
“ apa ? ayah katamu ?? hahaha bukannya kamu sudah tahu kalau aku ini bukan ayahmu. Oh, aku tahu, alasanmu menemuiku karena kamu mau tahukan kenapa aku menyulikmu ? “

“ Lia sudah tahu semuanya Ayah dan Lia sudah maafin Ayah. Oh, yah Lia bawain kopi untuk Ayah. Semoga Ayah menyukainya yah,  kopi ini buatan Lia loh “

Aku kemudian menuang kopi di dalam termos kecil ke dalam cangkir, berharap Ayah akan meminum dan menyukai kopi buatanku.

“ kenapa kamu lakuin semua ini nak, aku benar-benar nggak pantas kamu panggil ayah dan terimakasih karena kamu masih mau peduli denganku dan bahkan mau memafkanku setelah apa yang ku perbuat  padamu  “ ujar Ayah selepas menyeruput kopi yang baru saja aku tuang.  Baru kali ini aku melihatnya menangis.  Aku tahu sebenarnya ayah bukannlah orang jahat, hanya saja mungkin keadaan yang membuatnya menjadi keras. Apalagi  jalan hidup yang tidak sejalan dengan keinginannya.

Apalagi selepas aku tahu jika ternyata Alasan Ayah menculikku , karena dulu Ayah begitu mencintai bunda tapi bundah lebih memilih ayah kandungku yang saat ini menjadi suaminya. Maka dari itu ayah menjadikanku pelampiasan dan sebagai media untuknya balas dendam. Tapi semua itu sudah aku maafkan karena kini hidupku telah bahagia. Dan sekarang aku bisa berkumpul dengan kedua  orang tuaku.

End


Nama               : Lili Fitriani.hafid
Alamat             : SUL-SEL / SIDRAP
No hp               : 082194761408
No KTP           :7314084202960001
Twitter account : @lili_hafid
Fb                    : Lili Fitriani.hafid
Instagram         : @lili_fitriani.hafid


 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen #MyCopOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan nulisbuku.com





Komentar

  1. Ada beberapa kata yg typo, untuk ceritanya sendiri kerenlah menarik, semangat yaah li' nulisnya.. semoga berhasil GOOD LUCK

    BalasHapus
  2. ide ceritanya menarik... teruskan!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pergilah...

Waktu bergulir tanpa henti Dan aku masih di sini Bersama bayangmu yang selalu menghampiri Sendiri Bagaimana aku bisa pergi  Mencari hati yang kau curi  Waktu bergulir tanpa henti Aku tak ingin seperti ini Menanti dirimu kan kembali Menanti dirimu yang tidak pasti Waktu bergulir tanpa henti Pantaskah aku menyebut namamu lagi Yang tak pernah bisa memahami Aku yang terluka ini Ku mohon cukup sampai di sini Bawa pergi buayan palsu yang pernah kau beri Karena aku tak ingin tersakiti lagi.

DIAM

Diam   Dalam diam, aku menyapa bersama hangatnya suka cita Dengan diam, bukan berarti aku tak punya kepekaan rasa Aku juga ingin berbaur dengan dunia Tapi sungguh, aku tak mampu mengungkapkannya Atau hanya sekedar angkat bicara   Kebungkaman ku terkadang membuatku tersiksa Karena diamku, aku merasa tak punya siapa-siapa Berbagi cerita, entah kepada siapa??   Ingin rasanya aku teriak sekeras yang aku bisa Menunjukan jati diri ini yang sebenarnya Bukan manusia dingin seperti yang selama ini kamu kira   Aku juga   ingin seperti mereka Yang bisa berbagi ceria, menghapus luka dan tertawa bersama Tapi nyatanya ?? Aku masih membeku dalam jeratan hampa Membisu dalam diam yang membuatku tak berdaya   By. Lili Fitriani Hafid