Langsung ke konten utama

Hampa



Hampa
Beberapa pasang mata menyorot tajam
Mengarah padaku seakan ingin menerkam
Apa yang bisa aku  lakukan kecuali bungkam
Terus saja berteriak, karena tetap saja aku hanya diam

Kau bertanya apa yang aku lakukan ??
Aku  sedang sibuk dengan kesendirian
Dan sebisa mungkin menjahui keramaian
Yang hanya bisa menyajikan kesedian

Untuk apa aku angkat bicara
Jika saranku saja kau anggap cacian
namun diamku kau anggapp sebagai senjata
Ku mohon katakan apa yang harus aku lakukan
Apa aku harus menghilang saja
Agar tak lagi mengusikmu dengan segala yang aku lakukan

Aku tak lagi butuh pengertian
Karena itu tidak akan pernah aku dapatkan
Yang kubutuhkan hanya beristirahat dalam kesendirian
Memeluk keheningan
Dan berhenti meyusahkan kalian
Ku ingin tinggalkan semua kelelahan
Berharap pulih dari keterpurukan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secangkir Kopi Tubruk untuk Ayah

SECANGKIR KOPI TUBRUK UNTUK AYAH   Aku masih menatap awan yang mulai meredup sendu, perlahan demi perlahan berubah warna menjadi kelabu.   Alam seakan mengisyaratkan isi hatiku.   Hatiku yang dipenuhi oleh luka yang bergemuru. Saat air mata menetes membasai pipiku, seketika itu pula hujan mendarat menyamarkan dan melebur dengan tangisanku. Aku tidak peduli meski kini hujan telah menguyur sekujur   tubuhku dan membiarkan dingin melemahkan pertahananku. Langkahku semakin lunglai menelusuri setepak jalan yang aku sendiri nggak tahu kemana aku akan pergi. Sepinya jalanan dari   kendaraan   maupun orang yang lalu lalang membuatku bertanya-tanya. Akankah ada yang menolongku dari kehampaan ini ?? akankah ada yang melepaskanku dari luka dan rasa takut yang menjeratku selama ini ?? aku ingin melepaskan diri, berlari sejauh mana kaki ini membawaku pergi. Aku ingin pergi, menjauh dari pelampiasan semua kekesalan ayah. Aku ingin pergi agar terbebas dari ...

Pergilah...

Waktu bergulir tanpa henti Dan aku masih di sini Bersama bayangmu yang selalu menghampiri Sendiri Bagaimana aku bisa pergi  Mencari hati yang kau curi  Waktu bergulir tanpa henti Aku tak ingin seperti ini Menanti dirimu kan kembali Menanti dirimu yang tidak pasti Waktu bergulir tanpa henti Pantaskah aku menyebut namamu lagi Yang tak pernah bisa memahami Aku yang terluka ini Ku mohon cukup sampai di sini Bawa pergi buayan palsu yang pernah kau beri Karena aku tak ingin tersakiti lagi.

Rasa Yang Ku Miliki

Rasa ini mulai menjelma Haruskah aku mengungkapkannya ? Tapi kau tidak  punya kepekaan rasa Menjauh mugkin itu satu-satunya cara Namun, apakah aku  bisa ?  jika bayangmu mengusik jiwa Berlari, aku mengejarmu tanpa kau sadari Menangisi, kau tidak pernah peduli tentang rasa ini Pergi, sebaiknya aku menjauh dan tidak mengusik hidupmu lagi Menepi, melepas hadirmu di lubuk hati Tapi terimakasih, kau telah membuatku mengerti Jika cinta tak harus memiliki Jangan perah menunjukan jika kau peduli karena sebenarnya kau tidak pernah mengarti Jika hati ini kutujukan padamu yang tidak bisa ku miliki Tak perlu kau pertanyakan kenapa aku tidak memilih bertahan Atau mencoba untuk memperjuangkan karena aku mengerti Jika aku bukanlah  bunga yang kau harapkan Hatimu telah kau sandarakan kepadanya yang lebih menawan by. LiliWrites